Bidadari dan Sebutir Gundu

seorang bidadari berlari tanpa alas kaki
gelombang rambutnya berayun, menoleh padaku
‘ayo berlari! tanggalkan gelisah itu disini’
lalu gerimis merinai seperti serpihan gula pasir

tak kuat kutahan hasrat berbagi
tentang masa yang menggundahkan
tentang cinta yang tak kupahami
tentang alamat Tuhan yang tak berwujud

bidadari tanpa alas kaki dan sebutir gundu
kamilah pusat seribu harmoni
sampai pada masa aku merata dengan tanah
menyelipkan selembar cerita pada bumi yang menua

11.10.08/07:52/my boardinghouse
dipersembahkan untuk: bidadari ayoeku.

Explore posts in the same categories: dedicated to

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

12 Comments on “Bidadari dan Sebutir Gundu”

  1. gatot Says:

    hihihi…;) aku juga jadi tak tahan untuk berbagi hasrat.
    hasrat buat main gundu sma bidadari, hehehe….

  2. catastrova Says:

    bidadarine ora gelem, bos. hahaha thx u

  3. Ayu Says:

    U/sbuah cinta yg tak pnh ku mengerti ujungnya,ku kan bersandar!

    Nuwun buat puisnya..

  4. catastrova Says:

    u’re welcome, say! love u.

  5. cuenk Says:

    sae niku,,,

    luwih becik kelangan bondho donyo tinimbang kelangan konco.

    hee..

  6. lulu Says:

    great poem..

  7. catastrova Says:

    makasih lulu.. temennya Ayuk ya?? hehehehehe

  8. catastrova Says:

    cuenk, makasih.. salam kenal..

  9. cahbagusdw Says:

    terperanjat sejenak
    mencoba memaknai sebuah kata
    hingga akhirnya ku bertanya:
    “Mbak Priiim… gundu ki opoo” ehehehe

  10. catastrova Says:

    gundu ki sejenis kelereng tapi soko tanah yang dibakar. itu yg aku baca di kamus bahasa indonesia :D

  11. suket-alas Says:

    gundu-nya sering dimainkan anak2 kecil. saling beradu dech, jadi mumet!!!

  12. catastrova Says:

    terima kasih, mas suket-alas.. hehehehe.. :D
    salam buat bidadarinya tidak?


Comment: