Bidadari dan Sebutir Gundu
seorang bidadari berlari tanpa alas kaki
gelombang rambutnya berayun, menoleh padaku
‘ayo berlari! tanggalkan gelisah itu disini’
lalu gerimis merinai seperti serpihan gula pasir
tak kuat kutahan hasrat berbagi
tentang masa yang menggundahkan
tentang cinta yang tak kupahami
tentang alamat Tuhan yang tak berwujud
bidadari tanpa alas kaki dan sebutir gundu
kamilah pusat seribu harmoni
sampai pada masa aku merata dengan tanah
menyelipkan selembar cerita pada bumi yang menua
11.10.08/07:52/my boardinghouse
dipersembahkan untuk: bidadari ayoeku.
Tags: guratan
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
October 11, 2008 at 9:42 pm
hihihi…;) aku juga jadi tak tahan untuk berbagi hasrat.
hasrat buat main gundu sma bidadari, hehehe….
October 12, 2008 at 7:18 pm
bidadarine ora gelem, bos. hahaha thx u
October 13, 2008 at 12:52 am
U/sbuah cinta yg tak pnh ku mengerti ujungnya,ku kan bersandar!
Nuwun buat puisnya..
October 13, 2008 at 11:18 am
u’re welcome, say! love u.
October 13, 2008 at 4:11 pm
sae niku,,,
luwih becik kelangan bondho donyo tinimbang kelangan konco.
hee..
October 13, 2008 at 4:18 pm
great poem..
October 15, 2008 at 9:20 pm
makasih lulu.. temennya Ayuk ya?? hehehehehe
October 15, 2008 at 9:22 pm
cuenk, makasih.. salam kenal..
October 17, 2008 at 4:48 pm
terperanjat sejenak
mencoba memaknai sebuah kata
hingga akhirnya ku bertanya:
“Mbak Priiim… gundu ki opoo” ehehehe
October 20, 2008 at 8:22 pm
gundu ki sejenis kelereng tapi soko tanah yang dibakar. itu yg aku baca di kamus bahasa indonesia
October 21, 2008 at 3:41 pm
gundu-nya sering dimainkan anak2 kecil. saling beradu dech, jadi mumet!!!
October 21, 2008 at 7:25 pm
terima kasih, mas suket-alas.. hehehehe..
salam buat bidadarinya tidak?