Gelisah Sang Purnama

purnama sempurna menyala semerah bara

kini aku tahu hati bukan tempat menyimpan cinta
meski otak mendata tiap cerita tentangmu

aku tak harus dimengerti
rasa sakit itu pun ternyata hanya lewat
lalu pergi membuntut kemarau yang terhapus gerimis

aku cinta kamu
ribuan kali aku katakan
“aku cinta kamu”
hanya itu, dan purnama membisu

15.10.08/20:15/GrandNet Studio

Explore posts in the same categories: Untuknya..

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

8 Comments on “Gelisah Sang Purnama”

  1. gatot Says:

    Dan gatot membisu. zzzzz……

  2. catastrova Says:

    huahahahahahahahaha, thx u bos.. ngikutin terus ya bos..

  3. noel Says:

    ak bales pake puisi ini aj gmn?

    Bungkam

    Kadang ketika kata tak bisa terucap
    Makna menjadi terjerat
    Terpendam dalam hening
    Mengurai semua tanya

    Diamkan saja
    Waktu akan menjawab

    Nanti !!
    Tidak sekarang…

  4. catastrova Says:

    huahahahaha thx u ya miss diaz..
    waktu memang akan menjawab..

  5. gatot Says:

    Bukan hati bukan bukan pula otak…
    Di kesadaran historis kita bertemu…
    We have different world.
    Yet, but it is wonderfull if our world meet each other.

  6. catastrova Says:

    hahahahaha… ya dikesadaran historis kita bertemu..

  7. ????? Says:

    Apakah di dunia ini ada cinta ?
    Aku ragu?
    Saat orang mengatakan cinta, apakah itu berarti dia cinta, atau menginginkan cinta.
    Gelisah purnama merupakan gelisahku.
    Tak ada yang mencintai Purnama itu,
    Purnama, membisu tak sadar apa itu cinta.
    Apa purnama perlu dicinta, dipuji, disanjung ?
    Atas kesempurnaan, keindahan, kebisuaannya………

  8. catastrova Says:

    iyah.. aku juga ragu..


Comment: