Gelisah Sang Purnama
purnama sempurna menyala semerah bara
kini aku tahu hati bukan tempat menyimpan cinta
meski otak mendata tiap cerita tentangmu
aku tak harus dimengerti
rasa sakit itu pun ternyata hanya lewat
lalu pergi membuntut kemarau yang terhapus gerimis
aku cinta kamu
ribuan kali aku katakan
“aku cinta kamu”
hanya itu, dan purnama membisu
15.10.08/20:15/GrandNet Studio
Tags: guratan
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
October 18, 2008 at 12:12 am
Dan gatot membisu. zzzzz……
October 20, 2008 at 8:18 pm
huahahahahahahahaha, thx u bos.. ngikutin terus ya bos..
October 25, 2008 at 4:24 pm
ak bales pake puisi ini aj gmn?
Bungkam
Kadang ketika kata tak bisa terucap
Makna menjadi terjerat
Terpendam dalam hening
Mengurai semua tanya
Diamkan saja
Waktu akan menjawab
Nanti !!
Tidak sekarang…
October 25, 2008 at 4:34 pm
huahahahaha thx u ya miss diaz..
waktu memang akan menjawab..
October 26, 2008 at 10:33 pm
Bukan hati bukan bukan pula otak…
Di kesadaran historis kita bertemu…
We have different world.
Yet, but it is wonderfull if our world meet each other.
October 28, 2008 at 2:27 pm
hahahahaha… ya dikesadaran historis kita bertemu..
November 26, 2008 at 10:41 pm
Apakah di dunia ini ada cinta ?
Aku ragu?
Saat orang mengatakan cinta, apakah itu berarti dia cinta, atau menginginkan cinta.
Gelisah purnama merupakan gelisahku.
Tak ada yang mencintai Purnama itu,
Purnama, membisu tak sadar apa itu cinta.
Apa purnama perlu dicinta, dipuji, disanjung ?
Atas kesempurnaan, keindahan, kebisuaannya………
November 27, 2008 at 7:08 pm
iyah.. aku juga ragu..